27.5.13

teosentris dan antroposentris


Teosentris
      Teosentris berasal dar bahasa Yunani, theos, yang memilik iarti Tuhan, dan bahasa Ingris, center, yang berarti pusat. Pada konteks ini, teosentris mengacu pada pandangan bahwa sistem keyakinan dan nilai terkait Ketuhanan secara moralitas lebih tinggi dibandingkan sistem lainnya. Teosentris adalah sebuah pemikiran dimana semua proses dalam kehidupan di muka bumi ini akan kembali kepada Tuhan.  

      Pada kajian yang lebih mendalam, teosentris berarti menegakan kejayaan Tuhan dengan melakukan berbagai hal yang baikdan menghalau berbagai hal yang buruk.Terkait hal ini, perspektif Kristiani serupa dengan Islam. Kitab suci Al-Quran menyatakan bahwa tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk mengagung kan dan menyembah Allah SWT, seperti yang dinyatakan pada surat Adh Dhariyat 51:56: “dan tidaka Kuciptakan jinn dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku.” Menyembah, dalam kajian Islam, berarti mengakui pada kesatuan dan kekuasaan Allah SWT. Kehidupan merupakan perjuangan yang berkelanjutan antara kebajikan dan kejahatan.


   Sementara kajian Kristiani juga mengandung arti yang sama mengenai konsep keberpusatan pada Tuhan dalam penciptaan manusia. Pada Yesaya 43:7, dikatakan: “semua orang yang disebutkan dengannama-Ku yang kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan jugaKujadikan!” Dengan kata lain, tujuan akhir manusia di dunia ini adalah untuk mengagungkan Tuhan. Perspektif teosentris bahwa Tuhan meminta manusia untuk mengikuti hukum moralitas disajikan melalui uraian mencitai Tuhan kita dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, dengan sepenuh tenaga, dan dengan sepenuh pikiran. 

    Dalam teologi modern, teosentris sering kali dihubungkan dengan pelayanan dan etika lingkungan. Hal ini terkait dengan keyakinan bahwa manusia harus menjaga dunia sebagai pemelihara dan sehingga yang mana Tuhan menginginkan mereka. Manusia seharusnya memikirkan semua, dari hewan hingga tumbuhan hingga kemanusia sendiri. Hal ini memelihara bahwa manusia sejatinya di sini untuk waktu yang singkat dan seharusnya menjaga dunia untuk generasi mendatang.


     Dari beberapa uraian diatas maka munculah beberapa permasalahan tentang pengertian teosentris :
a.      Apakah manusia memiliki kehendak bebas dalam kajian Teosentris ?
b.      Apakah manusia memiliki kreatifitas dalam kajian Teosentris ?
c.      Apakah manusiame miliki tujuan dalam kajian Teosentris ?
d.      Apakah manusia bertanggung jawab dalam kajian Teosentris ? 

 Kehendak Bebas dalam Kajian Teosentris 

    Terkait dengan berkehendak bebas, dalam kajian Teosentris, manusia masih diberikan kebebasan. Namun kebebasan dibatasi dalam ruang lingkup aturanTuhan, dimana setiap perbuatan akan mendapatkan ganjaran, baikdan buruk.
      Teosentris sangat menekankan fungsi kebebasan dalam kaitannya dengan peran manusia sebagai kalifah di muka bumi. Dalam peran tersebut, manusia dituntut untuk menjalani hidup sesuai dengan tuntunan tertentu yang berorientasi pada pelestarian kehidupan dan keharmonisan hubungan. 

Kreatifitas dalam Kajian Teosentris 
    Setiap manusia memiliki potensi kreatif. Kebebasan yang diberikan pada Teosentris menumbuhkembangkan aspek kreatifitas yang dimiliki manusia. Namun aspek kreatifitas yang dimaksud di sini mematuhi pada hukum-hukum Tuhan, atau dapat diistilahkan sebagai kreatifitas ilahiah. Perpaduan antara aspek kreatifitas manusia dan teosentris merupakan pemicu lahirnya tradisi dan budaya pemujaan dan pengagungan Tuhan. Selain itu, dengan kreatifitasnya, manusia dapat mewujudkan berbagai tujuan yang dimilikinya, yang tentunya sesuai dengan ketetapan Tuhan.

Tujuan dalam Kajian Teosentris 
      Jika dikaji dari Teosentris, maka manusia sejatinya memiliki tujuan. Tujuan tersebut dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tujuan akhir (end goals) dan tujuan perantara (mean goals). Tujuan perantara merupakan sarana untuk mewujudkan tujuan akhir, yaitu mendapatkan keridhaan Tuhan. Tujuan perantara dibuat dan diwujudkan dengan tetap mengacu pada koridor aturan Tuhan. 

Tanggungjawab dalam Kajian Teosentris 
    Kembali lagi seperti yang telah diuraikan di bagian  sebelumnya, bahwa dalam kehidupannya manusia dapat memiliki banyak tujuan perantara. Berbagai tujuan perantara ini dibuat dan diwujudkan dengan mengacu pada hukum Tuhan. Penyimpangan terhadap hukum Tuhan, memberikan konsekuensi berupa dosa. Walaupun berbagai kesalahan tersebut dapat diampuni, namun berbagai dosa yang dilakukan secara disadari dan berkelanjutan, pada akhirnya menghambat perwuju dan tujuan akhir, keridhaan Tuhan.
    Sehingga singkatnya, manusia dalam mewujudkan tujuan perantaranya, harus selalu menjaga langkahnya untuk tidak melanggar aturan Tuhan.Dengan kata lain manusia memiliki tanggungjawab untuk selalu menjaga setiap langkahnya dalam kehidupan.


Antroposentris
       Antroposentris adalah teori etika lingkungan yang memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem dan dalam kebijakan yang diambil dalam kaitan dengan alam, baik secara langsung atau tidak langung. Nilai tertinggi adalah manusia dan kepentingannya.

        Hanya manusia yang mempunyai nilai dan mendapat perhatian. Segala sesuatu yang lain di alam semesta ini hanya akan mendapat nilai dan perhatian sejauh menunjang dan demi kepentingan manusia. Oleh karenanya alam pun hanya dilihat sebagai obyek, alat dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan manusia. Alam hanya alat bagi pencapaian tujuan manusia. Alamti dak mempunyai nilai pada dirinya sendiri.

    Munculnya teori Antroposentris, maka berkembanglah teori yang berkaitan dengan Antroposentris. Diantaranya :
a.       Teori Etika Egosentris
b.      Teori Etika Homosentris
c.       Teori Etika Ekosentris 
Etika Egosentris 
       Etika egosentris adalah etaika yang berdasarkan ego (diri). Focus etika ini adalah suatu keharusan untuk melakkukan tindakan yang baik bagi diri. Menurut Sony Keraf (1990: 31) etika egosentris memempercayai bahwa tindakan setiap orang pada dasarnya bertujuan mengejar kepentingannya sendiri dan demi keuntungan dan kemajuannya pribadi. Dengan demikian manusia merupakan pelaku rasional dalam mengusahakan hidup dengan memanfaatkan alam yang berdasarkan pada kenyataan. 

Etika Homosentris 
      Etika homosentris bertolak belakang dengan etika egosentris dalam arti jika egosentris lebih menekankan pada individu, maka etika homosentris lebih menitik beratkan pada masyarakat. Model-model yang dijadikan dasarnya adalah kepentingan social dengan memperhatikan hubungan antara pelaku dengan lingkungan yang mampu melindungi sebagian besar hajat masyarakat. 

Etika Ekosentris 
   Etika ekosentris merupakan aliran etika yang ideal sebagai pendekatan dalam mengatasikrisis ekologi dewasa ini. Hal ini disebabkan karena etika ekosentris lebih berpihak pada lingkungan secara keseluruhan, baik biotik maupun abiotik. Hal terpenting dalam pelestarian lingkungan menurut etika ekosentris adalah tetap bertahannya segala yang hidup dan yang tidak hidup sebagai komponen ekosistem yang sehat.


Kesimpulan
      Teosentris adalah sebuah pemikiran dimana semua proses dalam kehidupan di muka bumi ini akan kembali kepada Tuhan. Antroposentris adalah teori etika lingkungan yang  memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Pada hakikatnya manusia itu bersifat antroposentris, manusia sebagai khalifah (pemimpin) yang mempunyai kehendak bebas untuk mengatur tatanan lingkungan dengan batasan hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh tuhan. Sebab segala perlakuan akan mendapatkan ganjarannya masing-masing, baik itu perlakuan baik maupun  perlakuan buruk.
      Jadi sistem yang ada di dunia ini bersifat teosentris menuju antroposentris, dari Tuhan kepada manusia (bumi), dari manusia kepada alam, dari teori kepada tindakan, dan dari takdir menuju kehendak bebas dan pada akhirnya akan kembali lagi kepada Tuhan.